Jumat, 13 Desember 2013
13 Desember 2013 Aku tidak pernah takut salah jalan. Oke, belum pernah. Waktu aku harus memilih SMA, aku tidak merasa ragu. Sama ketika harus memilih jurusan IPA atau IPS, atau ketika memilih jurusan dan universitas. Waktu aku bingung di persimpangan jalan, aku serinng kali asal memilih. Toh, semua jalan pasti menuju ke suatu tempat *ehem. Tapi kalau urusan pacaran dan pasangan romansa, wah, pecundang lah daku! Waktu harus memilih sepatu di toko, aku jarang kesulitan. Pillih saja yang petama membuatku tertarik. Tapi tidak bisa disamakan dengan memilih pasangan. Ketemu si itu, ah, dia kurang ini. Ketemu si ini, ah dia kurang anu. Ketemu si anu, ah, dia kurang itu. bah, kalau begini mending pacaran sama sepatu! Aku selalu percaya bahwa ada kalanya kita bisa mengambil langkah yang salah. termasuk dalam berpacaran. Dan yang paling parah, aku percaya bahwa ketika di tengah hubungan dengan komitmen, pasanganku sah-sah saja mau ganti pasangan untuk alasan yang sama ketika dia pacaran denganku. Jatuh cinta adalah HAM. Bahkan jika jatuh cinta ke istri tetangga, atau yang jatuh cinta dengan orang lain adalah pacarku. Akibatnya aku takut untuk memulai. Bagaimana jika pasanganku tenyata salah mengartikan perasaannya padaku? Atau ketika aku merasa sangat posesif padanya dia justru berpaling? Kata orang luka itu menyehatkan. Tak ada sembuh tanpa sakit. Tapi sama seperti cantengan di jempol kaki atau sariawan di ujung bibir, mereka tidak pernah datang dengan kenyamanan. Bayangan akan patah hati dan terluka sangat menakutkan. Ada satu episode di spongbob yang mana patrick takut dengan bayangannya sendiri. Bayangan itu memang menyeramkan. Coba kamu lihat bayanganmu, bisa kamu lihat matamu di sana? Gambaran yang abstrak tentang hal-hal yang ingin ku ketahui lebih menakutkan daripada kenyataannya. Suatu hari mungkin saja aku akan menerima undangan pernikahan dengan tinta emas dari mantan pacarku yang kausnya masih tersimpan di lemari. Atau aku harus menatap mata mantan suamiku di wajah mungil putri kesayanganku, sementara ayahnya sudah memiliki putrinya sendiri tanpa turunan genetisku. Siapa yang tahu apakah aku cukup dewasa untuk menghadapinya. Atau apakah aku akan belajar dengan baik dari pengalaman itu. atau yang paling parah, aku justru menjadi lebih pecundang dan bersembunyi lebih dalam di antara dinding berjamur kamarku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar